Warga Keluhkan Perbaikan Bekas Galian PDAM, Ini Tanggapan Suparji

Warga Keluhkan Perbaikan Bekas Galian PDAM, Ini Tanggapan Suparji

BANDARLAMPUNG, LAMPUNG SEGALOW(25/6) – Warga keluhkan lambatnya perbaikan bekas galian pipa PDAM. Lambatnya tim perapihan penggalian pipa tersier milik PDAM Way Rilau mengganggu aktifitas warga karena tanah bekas galian yang belum dirapihkan, Kamis, (25/6/2020).

“Saya memaklumi kalau ada komplain dari masyarakat yang wilayahnya terkena galian pipa tersier milik kami itu. Penyebabnya kurangnya tenaga perapihan dan kalah cepatnya dengan tenaga penggalian dan pemasangan pipa,” jelas Direktur Tehnik PDAM Way Rilau, Suparji di ruang kerjanya Rabu 24 Juni 2020.

Dalam proses pemasangan pipa tersier milik PDAM Way Rilau itu kata Suparji ada empat kelompok kerja atau tim yaitu pengalian dan pemasangan pipa, perapihan, finishing dan penyambungan pipa.

“Penggalian dan pemasangan pipa tersier itu ada 200 orang yang dibagi dalam 10 kelompok, mereka kerja hingga jam 9 malam. Berbeda dengan kelompok perapihan yang hanya ada 5 kelompok kerjanya sampai sore, akhirnya kelompok ini keteteran,” jelasnya.

Baca Juga:   Balon Walikota Bandar Lampung Ike Edwin Fasih Berbicara Budaya Lampung di Channel Cawo Ekam

“Warga yang komplain itu sehari bisa lebih dari 10 dan harus dituntaskan karena sekarang dimusim penghujan sudah pasti becek jalan warga. Kami di pengawasan memantau dan memaksa pelaksana proyek agar cepat menuntaskan komplain warga tapi ya itu faktanya masih banyak warga yang komplain, kami mohon maap,” kata Suparji.

Sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Suparji mengaku setiap hari melakukan monitoring agar proyek tersebut tidak menggangu aktifitas masyarakat bahkan dia juga menyempatkan untuk turun ke lapangan.

“Saya selalu menginstruksikan kepada pelaksana dan konsultan untuk segera memperbaiki bekas galian terutama di jalanan strategis, di depan rumah, garasi dan jalan utama,” ujarnya.

Baca Juga:   Bupati Gelar Pembinaan Ormas & LSM

Proyek pipa tersier PDAM Way Rilau yang senilai Rp71 milyar sepanjang 501 Km melintas di lima kecamatan itu, dijelaskan Supardi penggaliannya menggunakan sistem terbuka dampaknya dimusim penghujan sangat menggangu aktifitas masyarakat.

“Dalam pelaksanaan penggalian kami menggunakan sistem terbuka berbeda dengan PGN yang menggunakan sistem tertutup. Kenapa pakai terbuka karena lebih murah,” jelasnya

“Untuk tempat-tempat tertentu saja seperti pintu masuk ke rumah dan garasi dan di persimpangan jalan, baru kami gunakan sistem penggalian tertutup,” ujar Dir Tehnik PDAM Way Rilau, Suparji.

Di tempat terpisah, Saras (32) warga Way Halim, Kecamatan Kedaton kecewa dengan penggalian pipa yang kata dia mengganggu jalan masuk ke rumahnya.

Baca Juga:   Perda LPJ APBD TA 2017 Ditetapkan DPRD Bandarlampung

“Abis digali kok ditinggal saja, sekarangkan musim hujan jadi beceklah jalan ini, kita sih maunya dirapihkan kembali paving blok jalan kami ini,” harapnya.

“Ada juga pak, tetangga saya terpaksa memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, mobilnya tidak bisa masuk karena ada bekas galian ini,” ujar warga Gang Berti, Way Halim itu.

Terlihat beberapa warga merapihkan sendiri bekas pipa galian PDAM di depan rumahnya.

” Ya kita benerin sendiri, kalau nunggu PDAM pasti lama diberesinnya. Kita padatin dulu tanahnya, dan papaingyabiar gak berhamburan kemana-mana, ” imbuhnya Nata. (din/rf)

Tags: , , ,
banner 468x60

No Responses

Tinggalkan Balasan