PERLU DIWASPADAI GEJALA SINDROM DRAVET PADA BAYI

PERLU DIWASPADAI GEJALA SINDROM DRAVET PADA BAYI

LAMPUNGSEGALOW.CO.ID – Salah satu hal yang perlu diwaspadai apabila bayi mengalami kejang terus-menerus adalah terjadinya sindrom dravet. Ya Moms, sindrom dravet adalah jenis epilepsi yang ditandai dengan kejang berkepanjangan sejak bayi, dan berlangsung seumur hidup. Oleh karena itu, bayi dengan sindrom dravet membutuhkan perawatan dan pengawasan sampai dewasa.

Sindrom dravet adalah jenis epilepsi yang sebagian besar disebabkan oleh mutasi varian patogen pada gen SCN1A. Penyakit ini dapat memengaruhi fungsi sel otak yang ditandai dengan terjadinya kejang yang disebabkan oleh demam dan rasa sensitif terhadap suhu. Kejang yang bayi alami dapat berlangsung selama beberapa detik hingga menit.

Mengutip dari Parenting First Cry, kejang berulang dapat mengakibatkan perubahan gerakan, pola perilaku, dan kesadaran. Sehingga, bayi dengan sindrom dravet cenderung mengalami keterlambatan perkembangan dan disfungsi intelektual seperti gangguan spektrum autisme.
Sindrom langka ini lebih sering dialami oleh bayi laki-laki. Sementara itu, sekitar 1 dari 20 ribu hingga 1 dari 40 ribu bayi mengalami sindrom dravet.
Lantas, bagaimana gejala

Baca Juga:   HASIL POLLING PEMILIHAN WALIKOTA, EVA DWIANA MASIH DIPERINGKAT TERATAS

Bayi dengan sindrom dravet? Berikut penjelasan dari Parenting First Cry.

Gejala Sindrom Dravet pada Bayi
Salah satu gejala umum sindrom dravet adalah kejang. Biasanya, kejang dimulai saat bayi berusia 1 sampai 18 bulan. Durasi kejang setiap bayi dengan sindrom dravet pun berbeda, tetapi sebagian besar berlangsung lebih dari 5 menit.
Selain kejang, ada beberapa gejala sindrom dravet yang bisa dialami bayi dan memiliki dampak berkelanjutan, yaitu:

Mudah Terkena Infeksi
Bayi dengan sindrom dravet mudah terkena gangguan kesehatan seperti infeksi telinga, hidung, tenggorokan, paru-paru, dan pencernaan, dalam jangka waktu panjang. Namun belum ada penelitian yang membuktikan apakah infeksi tersebut disebabkan oleh gangguan tumbuh kembang atau ada penyebab spesifik lainnya.

Baca Juga:   Bupati Nanang Donorkan Darahya,Bantu Pasien Warga Desa Rajabasa Lamsel

Suhu tubuh tidak teratur
Bayi dengan sindrom dravet dapat mengalami gangguan pada sistem saraf otonom. Akibatnya, produksi keringat dan suhu tubuh menjadi tidak teratur seperti bisa terlalu tinggi, tetapi juga bisa terlalu rendah.

Detak jantung tidak teratur
Sekitar satu dari tiga bayi dengan sindrom dravet memiliki detak jantung yang tidak teratur seperti detak jantung terlalu cepat ataupun terlalu lambat.

Tumbuh kembang terhambat
Sindrom dravet menyebabkan bayi mengalami keterlambatan tumbuh kembang, baik secara kesehatan maupun gangguan kognitif. Biasanya, anak dengan sindrom dravet mengalami masalah gizi sehingga mengganggu tumbuh kembang anak seperti kesulitan menambah berat badan. Sementara pada gangguan kognitif seperti kesulitan belajar dan keterlambatan berbicara juga dapat dialami saat usia anak-anak.

Baca Juga:   USIA BERAPA BAYI BOLEH TIDUR TENGKURAP DAN MANFAATNYA PADA BAYI

Gangguan perilaku
Selain mengalami keterlambatan tumbuh kembang, salah satu dampak berkelanjutan sindrom dravet adalah gangguan perilaku. Ya Moms, sebagian besar anak dengan sindrom dravet mengalami perilaku hiperaktif, mudah marah, dan kemungkinan terjadi gangguan spektrum autisme. Gejala anak dengan autisme juga ditemui pada anak dengan sindrom langka ini seperti sulit berinteraksi sosial, melakukan gerakan berulang, dan sulit melakukan kontak mata.
(Ist/Zar/AA)

 994 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini

Tags: , , ,
banner 468x60

No Responses

Tinggalkan Balasan