“Gak ada tempat sampah, taruh di sini aja,” ujar seorang ibu sambil menggeletakkan gelas plastik di pelataran perkantoran Oil Center Building.

Keberadaan sampah sisa minuman itu diperparah dengan hadirnya pedagang kaki lima yang kerap disebut Starbucks Keliling atau Starling di sekitar pintu masuk Stasiun Bundaran HI. Para pedagang yang menjajakan aneka minuman itu tak menyediakan plastik sampah.

Namun, pemandangan cukup bersih justru terlihat tepat di depan pintu masuk stasiun MRT. Sebab, tak jauh dari pintu masuk terdapat tempat sampah besi. Masyarakat terlihat tertib memasukkan sampah ke sana.

Tumpukan sampah terjadi karena masyarakat tak bisa masuk ke dalam area stasiun. Petugas menutup pagar di pintu masuk karena area dalam stasiun sudah terlalu penuh.

Hal ini membuat masyarakat piknik dadakan di depan pintu stasiun. Selain Starling, terdapat juga PKL yang menjual makanan seperti siomay.

Juni, 23 tahun, salah seorang penumpang MRT, mengaku tak tahu soal denda sebesar Rp 500 ribu jika kedapatan membuang sampah sembarangan di sekitar area stasiun.

Juni berpendapat jika aturan itu disosialisasikan dengan baik, maka tak akan ada sampah yang berserakan di sekitar stasiun MRT. “Baru denger. Kalau udah pada tahu pasti bersih area stasiunnya,” ujar dia.