BANDARLAMPUNG, LAMPUNGSEGALOW.CO.ID – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unila Program Study Pendidikan Tari menyelenggarakan program study ujian koreografi bertemakan Lingkungan di pasar tradisional Perumnas Wayhalim, Jalan Gunung Rajabasa Raya No.T 21, Wayhalim, Kamis (16/6).
Dosen Prodi Pendidikan Tari Unila, Nabila Kurnia Adzan menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan rangkaian dari mata kuliah koreografi non tradisi. ” Untuk tahun ini di program study pendidikan tari, kami sepakat untuk mengajak anak-anak berpengalaman untuk ada di proses koreografi lingkungan, dimana mereka harus mengangkat isu dari lingkungan dan pentasnya di lingkungan dan ini tentunya merupakan hal yang baru untuk sebuah pementasan di tempat umum,” jelas dia.
Dalam kesempatan ini, Nabila juga mengapresiasi dengan hasil kerja para mahasiswinya yang memiliki progres yang luar biasa baik. ” Saya bangga sekali, dari sekian kali tahap presentasi bi9mbingan progresnya luar biasa, dan tentunya harus banyak nilai positif yang bisa diambil. Tapi, kami selaku pembimbing dosen kami sangat mengapresiasi positif kinerja penciptaan 2koreografi lingkungan ‘ Nguli ‘ hari ini, ” beber dia.
Lanjutnya, koreografi tari ini untuk mengangkat isu lingkungan, dan dia juga mengungkap alasan terkait pemilihan pasar tradisional sebagai tempat kegiatan pentas tari. ” Kenapa kita pilih di pasar tradisional? karena kegiatan tersebut bersifat lingkungan ini memang pada dasarnya ada di pasar, seperti pembeli dan pedangan, serta bagaimana lingkungan di pasar itu bersih,dan nyaman, apalagi dengan tema kuli yang juga mengingatkan bahwa ada juga pekerja yang menjadi kuli pasar untuk mencari rejeki diantara pembeli dan penjual.”ujar dia.

Menurut dia, kegiatan koreografi seperti ini bukan pertama kali pertama diadakan. ” Ini sudah karya ke lima, tapi untuk ujian koreografi lingkungan ini pertama kali diadakan dan angkatan mereka yang mencoba ini dan yang pasar cuma ini, lokasi ada 14 karya dan isu dan tempatnya berbeda-beda,” terang dia.
Sementara itu, koreografer Seni Tari FKIP Unila, Gabriel Stephani mengatakan sebelum mengadakan kegiatan ini, dia dan rekanya mengadakan survei terlebih dahulu ke pasar tradisional Perumnas Wayhalim untuk melihat langsung bagaimana kehidupan di pasar ini. ” Sebelum melakukan kegiatan koreografi kita konsultasi dengan pedagang-pedagang di pasar, seperti apa sih yang di lakukan para pedagang dan pembeli,” kata dia.
Dia menuturkan, untuk persiapan kegiatan ini sudah dilakukan sejak 4 bulan lalu dan akhirnya kita sepakat dengan mengangkat tema nguli yang di perankan 6 anggota pentas dari FKIP, tema nguli ini menggambarkan bagaimana sosok perempuan yang kuat bekerja untuk keluarganya di pasar tradisional.
” Sudah 4 bulan mulai mencari konsep, sedangkan yang mengajarkan tari dari dosen pembimbing, jadi ini juga sekaligus ujian koreografi lingkungan bagi kami. Memang ada beberapa kendala dan sempat membuat kami shock, seperti penolakan para pedagang yang tidak ingin kami pentas karena dianggap menggangu para pengunjung. Tapi, kami bersyukur berkat sosialisasi dari PD pasar akhirnya para pedagang setuju kalau kami mengadakan pentas disini,” ungkap dia.
Masih di tempat yang sama, Kepala UPT PD pasar Tapis Berseri Pasar Perumnas Wayhalim mengatakan tujuan mereka mengadakan kegiatan ini untuk mengangkat lingkungan. “Yang menggambarkan kondisi di pasar tradisional seperti ini, banyak orang yang menggantungkan pencarian di pasar bukan hanya penjual dan pembeli tapi ada juga pekerja keras seperti tenaga kuli yang membantu pembeli untuk membawa belanjaannya,”jelas Yopie.
Lanjutnya, Kita merasa senang dengan adanya kegiatan seperti ini. “Artinya Pasar tradisional bisa menjadi pilihan mahasiswa untuk mengenalkan kepada masyarakat luas untuk berbelanja di pasar tradisional ini,” ujar dia . (Din/AA)
