LAMPUNG – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Lampung, Thomas Amrico, menginovasikan pada pola kegiatan belajar dan mengajar Double Teaching di SMA dan SMK se-Lampung.
Hal tersebut disampaikan Thomas Amrico kepada Lampung Segalow yang membahas tantangan pendidikan dan kebutuhan pembaruan metode pembelajaran di sekolah.
Menurut Thomas, budaya membaca buku di kalangan generasi saat ini mengalami penurunan. Jika sebelumnya siswa terbiasa mencari pengetahuan dengan membeli dan membaca buku, kini kebutuhan informasi lebih banyak dipenuhi melalui perangkat digital.

“Kalau dulu siswa ini belajarnya membaca buku, beli buku di toko buku. Ternyata hal itu sudah tidak terjadi hari ini. Budaya baca menurun,” kata Thomas. Selasa (8/9/2026).
Ia menilai, perubahan kebiasaan tersebut turut mempengaruhi ekosistem literasi. Menurutnya, keberadaan toko buku yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kini semakin berkurang karena minat masyarakat untuk membeli dan membaca buku juga menurun.
Thomas juga menyoroti kebiasaan siswa dalam menggunakan teknologi, termasuk kecerdasan buatan. Menurutnya, teknologi memang memberikan kemudahan dalam memperoleh informasi, tetapi penggunaan yang hanya berorientasi pada kebutuhan sesaat berpotensi membuat pengetahuan yang diperoleh tidak bertahan lama.
“Kalau siswa butuh sesuatu, dia tinggal klik di aplikasi robot, keluar, setelah itu kita lupa. Siswa tidak tumbuh, kritisnya tidak terbangun,” ujarnya.
Karena itu, Thomas menilai diperlukan perubahan pendekatan dalam proses pembelajaran. Ia mendorong penguatan peran guru sebagai mitra belajar, disertai peningkatan kapasitas pendidik melalui program in-house training.
Menurutnya, guru tidak cukup hanya menyampaikan materi, tetapi juga harus mampu menyesuaikan metode pembelajaran dengan karakter dan gaya belajar masing-masing siswa.
Salah satu inovasi yang tengah disiapkan Dinas Pendidikan Provinsi Lampung adalah konsep Double Teaching, yakni menghadirkan lebih dari satu guru dalam proses pembelajaran di kelas pada September 2026 ini.
Thomas mengatakan, konsep tersebut diharapkan dapat membuat proses pembelajaran lebih komprehensif karena para guru dapat saling melengkapi dalam menyampaikan materi sekaligus merespons keberagaman karakter siswa.
“Kami lagi menyiapkan program double teaching September ini. Saya ingin di dalam kelas gurunya tidak cuma satu. Misalnya mengajar murid, gurunya ada tiga, jadi saling melengkapi,” jelasnya.
Thomas menegaskan bahwa, pembangunan pendidikan tidak hanya bergantung pada kualitas dan kelengkapan sarana prasarana sekolah. Menurutnya, kualitas guru tetap menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan proses pembelajaran.
“Perbaiki dulu gurunya. Kalau gurunya bagus, sekolahnya juga bagus,” ungkapnya.
Melalui perubahan metode pembelajaran, penguatan kompetensi guru, serta pendekatan yang lebih sesuai dengan karakter siswa, Disdikbud Provinsi Lampung berharap sekolah mampu menjawab tantangan pendidikan di tengah perubahan teknologi dan kebiasaan belajar generasi saat ini. (NR/N)
