TANAMAN LANGKA TUMBUH DI BANDARLAMPUNG

BANDARLAMPUNG, LAMPUNGSEGALOW.CO.ID – Tanaman endemik bunga bangkai atau dengan bahasa latin Amorphophallus Paeoniifolius, baru-baru ini ditemukan tumbuh di Kota Bandarlampung, tepatnya di tempat wisata Taman Kupu-kupu Gita Persada. Jum’at (18/3).

Pemilik taman wisata, Anshori Djausal menerangkan, jenis tanaman ini berbeda dengan bunga bangkai lainnya yang termasuk tumbuhan parasite.

“Tanaman ini sudah tumbuh sekitar 3 hari yang lalu, baru dia mulai mekar besar. Tapi, bunga tersebut tidak memiliki waktu yang cukup lama untuk hidup, setelah mekar 3 hari, kemudian langsung layu. Sebenernya di bawahnya ada umbi nya, nah ini sering juga di panen sama orang, karena bisa di makan juga, jadi dia bukan kelompok raflesia yang parasite, kalo ini enggak,” terang Anshori.

Kemudian, Anshori mengatakan, Bunga tersebut tumbuh setiap 1 tahun sekali, dan tumbuh disetiap musim hujan. Untuk besar jenis ini mencapai 50 meter, berbeda dengan bunga bangkai lainnya, yang mencapai 80 Centimeter (Cm) hingga 1 meter.

“Jadi disini banyak sebenernya, tapi kita enggak tau, tiba-tiba aja muncul. Biasanya di musim hujan, tempat yang basah. Tumbuhnya juga enggak nentu, tiap tahun berpindah-pindah. Ini termasuk bunga yang besar, ada hampir setengah meter. Kalau untuk raflesia, itu bisa 80 cm, sampe 1 meter, jadi beda jauh perbedaannya,” Jelas dia.

Menurut Anshori, Bunga bangkai ini belum terjamin akan tumbuh lagi, meskipun didunia ada 100 lebih spesies didunia ini, tetapi ini salah satu endemic pulau Sumatra, dimana di pulau Sumatra hanya terdapat 25 spesies.

”Nah ini belum jaminan tahun depan ada lagi. Sebenarnya spesies bunga bangkai ini banyak di dunia, nah ini termasuk edemik Sumatra, untuk spesiesnya ada 100 lebih didunia, untuk di Sumatra atau di Indonesia ada 25 spesies. Nah, ini bentuknya seperti ini kalau di Sumatra, klo di jawa mungkin beda, Kalimantan beda. Salah satu family nya bunga bangkai yang gede,” pungkas dia.

Meskipun termasuk kedalam jenis bunga yang langka, sampai saat ini pemilik taman wisata alam masih belum mencoba untuk membudidayakan bunga tersebut, dan memilih untuk merawat ekosistem serta kualitas tanah, dengan cara tidak menggunakan bahan kimia. (TSF/AA)