BANDARLAMPUNG, LAMPUNGSEGALOW.CO.ID – Pasar tradisional memiliki peranan penting dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Keberadaan pasar tradisional ini sangat membantu, tidak hanya pemerintah daerah kota maupun kabupaten, tetapi juga para masyarakat yang menggantungkan hidupnya dalam kegiatan berdagang khususnya pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Karena, di dalam pasar tradisional banyak pelaku yang memiliki arti penting dan berusaha untuk memajukan serta mensejahterakan kehidupannya. Sabtu (7/5/2022).
Sebagai mana diketahui, pasar tradisional adalah pasar yang dibangun dan dikelola oleh pemerintah daerah, swasta, dan Badan usaha daerah termasuk kerjasama dengan swasta dengan tempat usaha seperti toko, kios, loods, dan tendayang dimiliki/ dikelola oleh pedagang kecil, menengah, swadaya masyarakat atau koperasi dengan modal usaha kecil dengan proses jual beli barang dagangan melalui proses tawar menawar. Pasar tradisional, merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli yang ditandai dengan adanya transaksi penjual dan pembeli secara langsung.
Penciptaan lapangan kerja, dapat kita temui juga di pasar. Dengan adanya kegiatan perdagangan disuatu pasar membutuhkan tenaga kerja yang tidak sedikit. Semakin luas suatu pasar, semakin besar tenaga kerja yang dibutuhkan. Dengan banyaknya tenaga kerja yang dibutuhkan oleh pasar, berarti peranan pasar sudah membantu mengurangi pengangguran dan meningkatkan sektor perekonomian suatu wilayah. Pasar sudah menjadi bagian yang melekat di kehidupan masyarakat, sebagian orang menggantungkan pekerjaan sehari-hari di pasar.
Oleh karena itu, keberadaan pasar sangatlah vital bagi masyarakat maupun perekonomian. Pasar juga sebagai penunjang peningkatan pendapatan daerah, sehingga keberadaan pasar sangat dibutuhkan oleh masyarakat.
Pasar tradisional dalam sebuah daerah merupakan sarana yang menjadi tolak ukur mutlak dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pasar tradisional juga merupakan tempat untuk menilai tingkat perekonomian disebuah daerah, dan kesejahteraan masyarakat merupakan tingkat tertinggi keberhasilan pemerintah daerah dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai aparatur yang bekerja untuk rakyat.
Peranan pasar tradisional bagi produsen atau pelaku usaha mikro kecil menengah yaitu membantu memperlancar penjualan hasil produksi dana dapat pula digunakan sebagai tempat untuk mempromosikan atau memperkenalkan barang dan jasa hasil produksi, selain itu produsen juga dapat memperoleh barang atau jasa yang digunakan untuk keperluan proses produksi. Mekanisme pasar sangat penting dipahami oleh produsen ataupun pengusaha. Kenapa demikian? Karena jika kita memahami betul tentang mekanisme pasar maka akan sangat menguntungkan untuk berkembangannya UMKM karena kita bisa tahu apa saja yang dibutuhkan dan diminta oleh konsumen.
Ada banyak pasar tradisional yang terdapat di kota Bandarlampung, dimana dalam pasar tradisional tersebut banyak pelaku usaha atau para UMKM yang menjadikan pasar tersebut sebagai tempat untuk mempromosikan serta memperjualbelikan barang yang dihasilkan. Salah satu contohnya Pasar Perumnas Wayhalim. Pasar Perumnas Wayhalim terletak di jalan Rajabasa Raya nomor T 21 Kelurahan Perumnas Wayhalim, Kecamatan Wayhalim. Di pasar yang beroperasi sejak pukul 06.00 wib sampai pukul 17.00 wib ini, banyak sekali para pengusaha kecil ataupun pedagang yang sampai saat ini masih ingin terus mengembangkan penghasilannya. Selain para pedagang, masih ada pengunjung ataupun pembeli yang ada di Pasar Perumnas Wayhalim cukup ramai. Karena semua kebutuhan sehari-hari mulai dari pangan, rempah-rempah dan segalanya ada di Pasar Perumnas Wayhalim, sehingga membuat para pedagang bersemangat didalam berjualan untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal.
Kepala PD pasar Perumnas Wayhalim Yovie mengatakan terdapat 549 pedagang,
pembagian ada yang disebut pedagang lapak ataupun pedagang yang menyewa kios.
” Pedagang lapak disini berjumlah 270, dan pedagang kios berjumlah 279,” ujarnya.
Dia menambahkan pasar yang memiliki luas area sebesar 7.000 m² dan luas bangunan sebesar 3.050 m² ini pernah meraih penghargaan dari BPOM. ” Pasar Wayhalim pernah meraih juara 1 Nasional Pasar Sehat Layak Pangan (PSLP) dimana dipasar ini bebas dari bahan berbahaya,” terangnya.
Dalam kesempatan ini, dia menerangkan pasar yang sempat di rehabilitasi oleh pemerintah kota ini memiliki kelebihan tersendiri dari pasar-pasar lainnya. ” Banyak pembeli yang berkunjung di pasar ini, hal ini tentunya dipengaruhi oleh produk-produk disini dijual dengan harga rakyat. Sehingga harganya murah bagi masyarakat. Dan juga pasar ini telah di modernkan oleh pemerintah kota agar nyaman untuk berbelanja dan jual beli,” paparnya.
Saat Lampung Segalow sedang melakukan riset di Pasar Wayhalim, tak sengaja berjumpa dengan Jumino. Jumino pria paruh baya yang sedang menjajakan hasil kerajinannya di sebuah toko kelontongan.
Ia mengatakan, setelah dirinya selesai menganyam tampah, bakul, dan sapu lidi yang terbuat dari bambu ia biasa mengantarkan barang kerajinan tersebut di toko kelontongan yang ada di pasar-pasar tradisional.
” Iya, kita buat sendiri. Setelah selesai biasanya memang kita antar ke warung-warung kelontongan yang ada di pasar tradisional. Kebantu sekali ya, dengan adanya pasar tradisional kita bisa promosikan produk kita ke konsumen tanpa harus keliling. Tinggal kita titipkan saja, alhamdulilah kalau dipasar tradisional ini kan banyak ibu-ibu yang mencari perkakas tradisional seperti buatan saya ini,” katanya.
Jumino mengaku pembuatan kerajinan berbahan bambu tetap ditekuninya. Sebab pekerjaan sebagai petani sudah tidak dapat ditekuninya. ” Saya dulu tinggal di desa dan bekerja sebagai petani. Tapi saat ini, saya ikut anak. Sekarang tinggal di Gunung Sulah,” akunya.
Untuk memenuhi kebutuhan produksinya, Jumino biasanya memesan ketukang bambu dengan harga Rp 5 ribu per batang bambu. Untuk menghasilkan anyaman tampah, dia mesti membelah dan membersihkan batangan bambu yang dia beli.
” Untuk satu kodi tampah isi 20 anyaman bambu ini biasanya butuh 2 batang bambu, dengan panjang delapan meter,” ucapnya.
Jumino menekunin usahanya ini sejak tahun 1999. Modal awal dia dapatkan dari pinjaman koperasi. ” Waktu itu modal pertama kita Rp 250 ribu rupiah, saya juga pinjam uang koperasi,” terangnya.
Perabotan jenis, tampah, bakul ini dihargainya dengan harga Rp 25 ribu perbuah, sementara sapu lidi dihargai Rp 7 ribu rupiah. Meski hanya mendapatkan hasil puluhan hingga ratusan ribu, pekerjaan ini menjadi sumber penghasilan baginya.
” Alhamdulillah mas, pekerjaan ini sudah menjadi pengahsilan utama atau mata pencarian tetap saya. Di usia saya yang tua ini, saya memang gak bisa diam. Bekerja membuat saya sehat dan menghasilkan uang,”ujarnya.
Sementara itu Susi, yang merupakan pedagang kue menerangkan sudah berdagang kue di pasar Perumnas Wayhalim sejak usianya masih remaja. ” Dari tahun 1998. Saya hanya meneruskan usaha orang tua, yang kemudian usaha ini diwariskan ke saya,” kata dia.
Menurut hasil wawancara dengan ibu Susi sebagai penjual kue dengan adanya pasar tradisional Perumnas Wayhalim ini memberikan dampak yang sangat positif bagi penambahan pengahsilan keluarganya. “Kalau dulu sering ikut ibu dagang di pasar ini, selain kue titipan ada juga kue yang saya buat sendiri. Jadi selain jadi ibu rumah tangga saya juga bisa mendapatkan uang dari hobi saya membuat kue,” kata dia.
Beliau mengatakan, dengan berjualan di pasar Perumnas Wayhalim untung yang di dapat berkisar Rp 350 ribu sampa Rp 500 ribu perhari. ” Alhamdulillah saja, kalau untung itu gak bisa diprediksi. Kadang rame kadang sepi, namanya berdagang. Tapi kita tetap ikhtiar dengan berjualan, karena saya memang hanya berjualan disini saja. Dengan untung yang di dapat ini bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarga, bayar sewa kios dan juga gaji pegawai,” ucapnya.
Dia menambahkan dengan adanya pasar tradisional ini, masyarakat sekitar yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga memiliki kemampuan untuk mengembangkan jiwa usahanya sekaligus memiliki penghasilan tambahan. ” Ya karena kue ini juga kan ada yang titipan. Ibu-ibu disekitaran sini biasanya ada yang menitipkan kue dan saya bantu jualkan. Kalau modal saya berasal dari modal sendiri. Besarnya modal tergantung kebutuhan. Modal usaha ini biasanya saya gunakan untuk membeli bahan-bahan berjualan,” paparnya.
Andi (28) pria yang berdagang tempe ini mengungkapkan bahwa usahanya merupakan usaha yang dirintis oleh keluarga.
” Ini usaha keluarga. Yang produksi memang keluarga, yang menjajakan juga keluarga, maksudnya keluarga saya mulai dari ayah, ibu dan kakak saya termasuk saya yang mengolah dan menjualnya,” terangnya.
Dia menerangkan, kalau dirinya biasa berjualan di pasar Perumnas Wayhalim. ” Saya disini, kalau kakak saya berjualan di pasar tempel Wayhalim, kalau orang tua saya berjualan tempe dan tahu di pasar Tugu,” ujarnya.
Menurutnya, dia dan keluarga biasa memproduksi tempe dirumahnya selama dua hari sekali. Proses pengolahannya masih menggunakan alat tradisional. ” Bahkan kalau rebus kedelai masih pakai tungku batu mas. Untuk produksi tempe memakan waktu yang cukup panjang, butuh waktu sampai tiga hari sampai tempe siap dipasarkan,” tuturnya.
Dalam kesempatan ini, Andi mengatakan, selain dijajakan oleh keluarganya, tempe dan tahu hasil produksinya di jual ke pedagang di pasar dekat rumah.
” Sekali kirim 2 kwintal. Seminggu tiga kali kirim ke pasar pakai motor yang sudah dilengkapi box untuk membawa tempe,” bebernya.
Dari hasil riset diatas, bisa diambil kesimpulan bahwa pelaku UMKM baik pengrajin bambu, penjual kue, dan pengusaha tempe menggantungkan roda ekonominya di pasar tradisional dengan mempromosikan barang dagangannya kepada konsumen setiap harinya. (Din/AA)
