BANDARLAMPUNG, LAMPUNGSEGALOW.CO.ID – Jelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), harga sejumlah bahan pokok naik di pasar tradisional.
Fenomena ini terjadi dibeberapa pasar tradisional yang ada di Kota Bandarlampung, salah satunya di Pasar Tamin. Kamis (7/12).
Tiara, pedagang di Pasar Tamin menjelaskan, bahwa bahan pokok mulai mengalami kenaikan yang cukup tinggi menjelang Natal dan Tahun Baru. Ia juga menyebutkan bahwa beras, gula, dan telur melonjak dari harga sebelumnya.
“Semuanya naik, gula naik dari Rp16.000 jadi Rp18.000, beras yang sebelumnya Rp14.000 sekarang Rp16.000 per Kg, kalo telur tadinya Rp25.000 jadi Rp28.000. Kalo minyak masih harga standar sih,” jelasnya.
Tiara juga menjelaskan, bahwa ada kemungkinan untuk harga telur akan mengalami kenaikan lagi mendekati Natal nanti.
“Buat sekarang masih segitu, mungkin nanti ketika Natal harga telur naik lagi,” ujarnya.
Berbeda dengan Tiara, menurut Irul yang juga pedagang sembako di Pasar Tamin mengatakan, bahwa kenaikan harga bahan pokok yang semakin tinggi salah satunya disebabkan karena sedang berlangsungnya musim pemilihan calon Presiden.
“Di tahun ini semua naik, rata-rata naiknya sampai 30%. Yang parah banget itu gula sama beras. Mau masuk pilihan Capres, jadi semuanya naik. Mudah-mudahan selesai pilihan, harga bisa kembali normal,” harapnya.
Dalam kesempatan ini, Irul juga menjelaskan, bahwa sudah banyak masyarakat yang protes dengan kenaikan harga bahan pokok ini.
“Dampaknya ya, banyak yang protes dengan kenaikan harga yang sudah gak sesuai dengan kebutuhan mereka. Yang harusnya belanja hari ini sekian cukup, eh gak tahunya harus nambah lagi,” terangnya.
Tidak hanya itu, kenaikan bahan pokok ini pun dikeluhkan oleh masyarakat yang semakin terbebani dengan harga yang semakin melonjak tinggi. Salah satunya adalah Anir yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Menurutnya setinggi apapun kenaikan harganya akan tetap dibeli karena itu adalah kebutuhan pokok untuk sehari-hari.
“Musim begini itu cukup agak terbebani. Apalagi sekarang kebutuhan tambah banyak, ya mau gak mau harus tetep dibeli. Tapi pinter-pinter kita aja gimana menyiasatinya, kadang juga harus beli yang dibawah standar supaya dapat harga yang miring, ” ungkapnya. (Din/N)
