Swadaya Rp2,6 Miliar, Warga Sripendowo Lampung Timur Bangun 11 Kilometer Jalan Gang

LAMPUNG  – Bertahun-tahun menanti perbaikan jalan, warga Desa Sripendowo, Kecamatan Bandar Sribhawono, Kabupaten Lampung Timur, akhirnya memilih bergotong royong membangun jalan lingkungan dengan dana swadaya.

Di tengah keterbatasan anggaran desa, warga mengumpulkan dana sesuai kemampuan masing-masing untuk memperbaiki akses jalan gang yang selama ini mereka nantikan. Gerakan tersebut bermula dari warga Dusun 6 dan kemudian meluas ke sejumlah wilayah lain.

Pembangunan dimulai pada Februari 2026, lalu kembali dilanjutkan pada Agustus 2026.

Kepala Desa Sripendowo, Suyoto, mengatakan, inisiatif warga muncul di tengah keterbatasan Dana Desa yang harus mengakomodasi berbagai kebutuhan pembangunan, termasuk perbaikan infrastruktur di seluruh wilayah. “Dengan keterbatasan Dana Desa, kami mengucapkan terima kasih atas kekompakan warga dalam membangun desa secara swadaya,” ujar Suyoto, Rabu (14/10/2026).

Menurut Suyoto, partisipasi masyarakat dilakukan berdasarkan kemampuan ekonomi masing-masing keluarga. Pemerintah desa tidak menetapkan kewajiban sumbangan, terutama bagi warga yang tidak mampu. “Selaku pemerintahan desa, kami tidak memaksakan itu karena anggarannya besar. Takutnya ada masyarakat yang tidak mampu, jadi kami tidak memaksa,” ungkapnya.

Hingga Oktober 2026, pembangunan jalan gang di Desa Sripendowo telah mencapai sekitar 8 kilometer dari target keseluruhan 11 kilometer. Suyoto menjelaskan, setiap gang memiliki panjang sekitar 100 meter dengan kebutuhan biaya pembangunan sekitar Rp 24 juta. Dengan asumsi tersebut, pembangunan 80 gang sepanjang 8 kilometer diperkirakan membutuhkan dana hingga Rp 1,92 miliar.

Sementara itu, penyelesaian seluruh 110 gang sesuai target diperkirakan memerlukan dana sekitar Rp 2,64 miliar. “Sementara itu, untuk menyelesaikan pembangunan 110 gang sesuai rencana, total dana yang dibutuhkan diperkirakan mencapai Rp 2,64 miliar,” bebernya.

Besarnya kebutuhan biaya membuat keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam keberlanjutan pembangunan tersebut.

Warga tidak hanya menunggu perbaikan, tetapi juga mengambil bagian dalam membangun akses jalan di lingkungan mereka.

Suyoto mengatakan, semangat warga untuk membangun jalan secara swadaya masih terjaga sejak gerakan itu dimulai. Inisiatif yang awalnya berasal dari satu dusun kini diikuti masyarakat di wilayah lain. Menurut dia, kekompakan warga menjadi modal utama agar pembangunan jalan lingkungan dapat terus berjalan meskipun dana yang tersedia terbatas.

“Masyarakat tetap semangat, kompak. Antusias sekali membangun desa, membangun dusun dengan anggaran swadaya murni dari masyarakat,” tuturnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *