
JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan signifikan pada penutupan sesi I perdagangan Rabu (13/5/2026). Berdasarkan data perdagangan, IHSG ditutup melemah 124,36 poin atau 1,81 persen ke level 6.734,53.
Penurunan tersebut menjadikan IHSG sebagai salah satu indeks yang bergerak paling lemah di tengah mayoritas bursa saham Asia yang justru berada di zona hijau.
Total nilai transaksi pada sesi I tercatat mencapai Rp10,28 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 26,13 miliar saham dan frekuensi transaksi mencapai 1,48 juta kali.
Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 262 saham menguat, 398 saham melemah, dan 150 saham bergerak stagnan.
Di pasar valuta asing, nilai tukar rupiah juga terpantau melemah 31 poin atau 0,18 persen ke posisi Rp17.497 per dolar Amerika Serikat (AS).
Saham Top Gainers
Sejumlah saham masih mencatat penguatan signifikan di tengah pelemahan IHSG, di antaranya:
- KOPI naik 24,56 persen ke level 284
- KONI menguat 19,51 persen ke 3.430
- ELPI naik 19,02 persen ke 1.940
- SWID melonjak 18,52 persen ke 128
- BNBR menguat 15,38 persen ke 180
Saham Top Losers
Sementara itu, sejumlah saham mengalami koreksi tajam, antara lain:
- MSIN turun 14,81 persen ke 575
- YOII melemah 14,29 persen ke 96
- TPIA turun 14,26 persen ke 4.330
- MORA terkoreksi 12,75 persen ke 6.675
- SIPD turun 12,57 persen ke 800
Saham dengan Nilai Transaksi Terbesar
Beberapa saham mencatat nilai transaksi tertinggi pada sesi I perdagangan:
- BRPT senilai Rp764,65 miliar
- BNBR senilai Rp548,83 miliar
- BMRI senilai Rp501,09 miliar
- ANTM senilai Rp456,88 miliar
- BBCA senilai Rp425,02 miliar
Bursa Asia Menguat
Berbeda dengan IHSG, mayoritas bursa saham Asia justru bergerak positif. Indeks Nikkei 225 di Jepang menguat 0,72 persen, sementara Hang Seng Index naik 0,26 persen.
Selain itu, indeks SSE Composite Index di China menguat 0,09 persen dan Straits Times Index di Singapura naik 0,83 persen.
Pelaku pasar kini mencermati berbagai sentimen global dan domestik, termasuk pergerakan nilai tukar rupiah, dinamika geopolitik internasional, hingga arah kebijakan moneter global yang masih membayangi pergerakan pasar saham Indonesia.
