Terkait Penutupan 833 SPPG, Satgas MBG Lampung Klaim Tidak Terima Laporan Resmi

LAMPUNG – Badan Gizi Nasional (BGN) dikabarkan menutup sebanyak 833 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia. Rinciannya, sebanyak 98 SPPG berada di Wilayah I Sumatera, 311 SPPG di Wilayah II Jawa-Madura, dan 424 SPPG di Wilayah III.

Menanggapi informasi tersebut, Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Makan Bergizi Gratis (MBG) Provinsi Lampung, Saipul, mengatakan hingga kini pihaknya tidak menerima informasi resmi mengenai adanya SPPG di Lampung yang terdampak penutupan permanen.

“Kami masih menunggu informasi resmi. Saya sudah berkoordinasi dengan Pak Regi, dan mereka juga belum menerima keputusan terkait pemberhentian permanen tersebut. Jadi sejauh pengetahuan kami belum ada informasi resmi mengenai itu,” kata Saipul di Kantor DPRD Provinsi Lampung. Selasa (28/07/2026).

Menurut Saipul, informasi mengenai penutupan 833 SPPG tersebut masih bersifat nasional sehingga tidak dapat dipastikan apakah ada dapur MBG di Lampung yang masuk dalam daftar penutupan.

Sementara itu, ia mengungkapkan saat ini terdapat 2 SPPG di Lampung yang masih berstatus suspend atau penghentian operasional sementara menyusul dugaan kasus keracunan makanan. Sampel makanan dari kedua dapur tersebut telah diambil oleh tim kesehatan untuk menjalani uji laboratorium.

“Tim kesehatan sudah mengambil sampel untuk diuji di laboratorium. Prosesnya memang cukup lama, bisa hampir 1 bulan hingga hasilnya keluar. Dugaan awal memang sudah ada, tetapi kami masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium,” ujarnya.

Selama masa penghentian sementara, Satgas MBG meminta tim di kabupaten/kota bersama koordinator wilayah memperketat pengawasan terhadap operasional dapur. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh ketentuan, petunjuk teknis (juknis), serta standar operasional prosedur (SOP) dijalankan secara optimal.

“Kami memastikan dapur yang disuspend diawasi secara ketat. Tim di daerah kami minta melakukan supervisi agar seluruh regulasi, juknis, dan SOP benar-benar dijalankan,” terangnya.

Ia menambahkan, selama dapur tidak beroperasi, pelayanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di lokasi tersebut otomatis dihentikan sehingga para pekerja juga tidak menjalankan aktivitas seperti biasa.

Saipul menegaskan, hingga saat ini tidak ada penambahan kasus dugaan keracunan makanan di Lampung. Sejak program kembali berjalan usai libur sekolah, hanya 2 kasus tersebut yang masih dalam proses penanganan. (NR/N)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *